Atol di Indonesia: Taka Bonerate, Mapia, dan Kakaban

    Ketika berbicara tentang atol, banyak orang langsung membayangkan Maladewa atau pulau-pulau kecil di Samudra Pasifik. Padahal, Indonesia juga memiliki atol yang tidak kalah menarik. Taman Nasional Taka Bonerate di Sulawesi Selatan, misalnya, tercatat sebagai salah satu atol terbesar di dunia dengan keindahan bawah laut yang menyaingi destinasi internasional. Selain itu, ada pula atol kecil di Kepulauan Mapia (Papua) yang memperlihatkan keragaman geologi maritim Nusantara.
    Menariknya, Indonesia bukan negara atol murni seperti Maladewa atau Kiribati. Namun kehadiran atol di wilayah kepulauan kita memperkaya bentang laut sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Dari sini, kita bisa melihat lebih luas: di mana saja atol tersebar di bumi, dan mengapa bentuk pulau ini begitu istimewa sekaligus rentan.

Kalau Anda belum akrab dengan istilahnya, baca dulu Apa Itu Atol?

Foto oleh Mohamed Uzain di Unsplash

Sekilas: Di Mana Saja Atol di Dunia?

    Sebagian besar atol dunia berada di Samudra Pasifik. Di Kepulauan Marshall, Tuvalu, dan Kiribati, hampir seluruh daratannya berupa atol. Kiritimati di Kiribati dikenal sebagai atol dengan daratan terluas di dunia.

    Di Samudra Hindia, yang paling terkenal adalah Maladewa, negara yang seluruh wilayahnya tersusun dari 26 atol. Di Samudra Atlantik, atol jauh lebih jarang.

    Sebarannya terbatas karena terumbu karang pembentuk atol hanya tumbuh baik di laut tropis yang hangat, jernih, dan dangkal. Itu sebabnya atol tidak ditemukan di perairan dingin seperti Eropa Utara.

Atol di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan dengan 17.380 pulau menurut data Badan Informasi Geospasial tahun 2024, tetapi hanya sedikit yang berbentuk atol. Justru karena langka, atol-atol ini istimewa.

1. Taka Bonerate: Atol Terbesar di Asia Tenggara

Taman Nasional Taka Bonerate, sumber google maps

Taka Bonerate terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, di Laut Flores. Namanya berasal dari bahasa Bugis: taka berarti karang, bone berarti pasir, dan rate berarti di atas. Jadi artinya kurang lebih "hamparan karang di atas pasir".

Beberapa fakta kuncinya:

  • Peringkat dunia. Menurut dokumen pengajuan Indonesia ke UNESCO, Taka Bonerate adalah kawasan atol terbesar ketiga di dunia, setelah Kwajalein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva (Huvadhu) di Maladewa.
  • Luas. Hamparan atolnya sekitar 220.000 hektare, dengan terumbu karang tersebar di area sekitar 500 km². Taman nasionalnya sendiri lebih luas lagi, yaitu 530.765 hektare.
  • Pulau. Menurut Balai Taman Nasional, kawasan ini mencakup 18 pulau kecil, 5 bungin (gosong pasir), dan 30 taka (rataan karang). Sumber lain menyebut 15 atau 21 pulau, tergantung cara menghitungnya. Tujuh pulau berpenghuni: Tarupa, Rajuni Kecil, Rajuni Besar, Latondu, Jinato, Pasitallu Tengah, dan Pasitallu Timur, yang dihuni orang Bugis dan Bajo.
  • Kekayaan hayati. Tercatat lebih dari 240 jenis karang dan ratusan jenis ikan karang. Angka pastinya berbeda antarsumber.
  • Status. Ditunjuk sebagai taman nasional pada 1992, ditetapkan pada 2001, dan masuk jaringan Cagar Biosfer UNESCO pada 2015.

Pulau Tinabo menjadi pusat kegiatan wisatanya. Tantangan terbesarnya adalah akses: dari Benteng, ibu kota Selayar, perjalanan laut ke Tinabo memakan waktu sekitar empat jam.

2. Kepulauan Mapia: Atol di Ujung Utara Papua

Kepulauan Mapia adalah atol kecil di Samudra Pasifik yang masuk wilayah Kabupaten Supiori, Papua. Letaknya terpencil, sekitar 200 km di utara Manokwari dan 630 km dari Palau.

Atol ini terdiri dari lima pulau: dua pulau utama, Bras dan Pegun, satu pulau yang lebih kecil bernama Fanildo, serta dua pulau mungil di dekatnya. Penduduknya sangat sedikit, hanya 199 jiwa menurut Sensus 2020.

Mapia juga menyimpan cerita yang jarang diketahui. Atol ini pernah punya bahasa sendiri, bahasa Mapia, yang punah pada akhir abad ke-20. Karena posisinya di tepi perbatasan, dua pulaunya, Bras dan Fanildo, termasuk pulau-pulau kecil terluar Indonesia yang pengamanannya diprioritaskan.

3. Pulau Kakaban: Atol yang Terangkat

pulau kakaban, source google maps

Pulau Kakaban di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, adalah jenis atol yang berbeda. Atol ini terangkat oleh proses geologi, sehingga air laut di lagunanya terperangkap dan berubah menjadi danau.

Hasilnya adalah Danau Kakaban, danau berair payau di tengah pulau. Pulaunya sendiri seluas sekitar 774 hektare dan tidak berpenghuni. Karena terisolasi dari laut dan nyaris tanpa pemangsa besar, ubur-ubur di danau ini tidak lagi membutuhkan sengat sebagai alat pertahanan, sehingga aman disentuh manusia. Ada empat jenis di sana: ubur-ubur emas, ubur-ubur bulan, ubur-ubur kotak kecil, dan ubur-ubur terbalik. Danau serupa yang paling terkenal adalah Jellyfish Lake di Palau. Kakaban sering disebut "satu dari dua di dunia", tetapi klaim itu kurang tepat: danau ubur-ubur tak menyengat juga tercatat di tempat lain di Indonesia, antara lain di Kepulauan Togean, Raja Ampat, dan Pulau Maratua yang bertetangga dengan Kakaban.

Nama Kakaban konon berasal dari bahasa Bajo yang berarti "memeluk", menggambarkan pulau karang yang seolah merangkul danaunya.

Atol Indonesia vs Maladewa

IndonesiaMaladewa
Porsi atolSegelintir dari 17.000 lebih pulauSeluruh wilayah negara
Fungsi utamaKawasan konservasi dan wisata selamTempat tinggal sekitar 515 ribu jiwa
StatusTaman nasional, cagar biosfer, kawasan konservasi daerahNegara berdaulat
Taruhannya bila rusakHilangnya keanekaragaman hayati dan mata pencaharian lokalKeberlangsungan negara

Ancaman Perubahan Iklim terhadap Atol

Atol rendah, dikelilingi laut, dan dibangun oleh makhluk hidup yang peka terhadap suhu. Kombinasi itu membuatnya sangat rentan.

Kenaikan permukaan laut

Menurut laporan IPCC, permukaan laut global pada 2100 diperkirakan naik 0,28–0,55 meter dalam skenario emisi sangat rendah dan 0,63–1,01 meter dalam skenario emisi sangat tinggi, dibandingkan rata-rata 1995–2014. Bagi pulau yang tingginya hanya satu sampai dua meter, angka itu sangat berarti.

Pemutihan karang

Karang bisa memutih dan mati bila suhu laut naik sekitar 1°C di atas normal selama beberapa minggu. Di perairan Indonesia, pemutihan massal tercatat pada 1983, 1998, 2010, dan 2016, dan jarak antarkejadiannya makin pendek. Karena atol dibangun oleh karang, karang yang mati berarti fondasi yang berhenti tumbuh.

Krisis air tawar

Penduduk atol bergantung pada lapisan tipis air tanah dan air hujan. Studi USGS tahun 2018 menunjukkan bahwa gelombang yang makin sering melimpas ke daratan akan mencemari air tanah itu dengan air asin, sehingga banyak pulau atol bisa tidak layak huni pada pertengahan abad ini, sebelum benar-benar terendam.

Apakah atol pasti tenggelam?

Tidak sesederhana itu. Penelitian di Tuvalu yang terbit di Nature Communications pada 2018 menemukan bahwa luas daratan negara itu justru bertambah 2,9% antara 1971 dan 2014, meski permukaan laut setempat naik. Hampir tiga perempat pulaunya membesar.

Artinya, pulau atol bersifat dinamis: gelombang dan sedimen terus mengubah bentuknya. Namun para penelitinya sendiri mengakui bahwa layak huni bergantung pada banyak faktor, bukan hanya luas daratan. Studi USGS di atas menunjukkan salah satunya, yaitu air tawar. Jadi daratan yang bertahan belum tentu berarti pulau yang tetap bisa dihuni.

Upaya Menjaga Atol

  • Kawasan konservasi dan patroli. Di Taka Bonerate, kerusakan karang terbesar justru datang dari manusia: penangkapan ikan dengan bom dan racun sianida, yang menurut penelitian masih terjadi di dalam kawasan. Balai taman nasional menanganinya lewat patroli rutin. Danau Kakaban ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan daerah oleh Pemerintah Kabupaten Berau pada 2013.
  • Aturan berkunjung. Di Danau Kakaban, pengunjung dilarang memakai tabir surya dan kaki katak, menyelam dengan scuba, melompat ke danau, serta membawa makhluk apa pun masuk atau keluar danau.
  • Pelibatan warga. Ekowisata memberi alternatif penghasilan sekaligus alasan bagi warga untuk ikut menjaga karang.
  • Rekayasa. Sejak 1997 Maladewa membangun Hulhumalé, pulau buatan di timur laut Malé yang dibentuk dengan memompa pasir dari dasar laut. Tingginya sekitar 2 meter di atas permukaan laut, kira-kira dua kali tinggi Malé. Tujuan awalnya mengurangi kepadatan ibu kota, dan ketinggian ekstra itu kini menjadikannya tempat berlindung bila pulau-pulau yang lebih rendah tidak lagi layak huni.

Penutup

Atol Indonesia mungkin tidak sebanyak di Maladewa, tetapi keunikannya tidak kalah: salah satu atol terbesar di dunia, atol terpencil dengan bahasa yang telah punah, dan atol terangkat dengan danau ubur-ubur tanpa sengat. Ketiganya menghadapi tekanan yang sama dengan atol di belahan dunia lain. Menjaganya berarti menjaga karang yang membangunnya.

Seri Atol di Ide Acak

  1. Apa Itu Atol? Pengertian, Proses Terbentuk, dan Contohnya
  2. Maladewa: Negara Atol di Samudra Hindia
  3. Atol di Indonesia: Taka Bonerate, Mapia, dan Kakaban

Daftar Referensi

Diakses Oktober 2026.

Posting Komentar untuk "Atol di Indonesia: Taka Bonerate, Mapia, dan Kakaban"